Selasa, 01 Oktober 2024
Hari ini lalu lalang postingan tentang bapak. Potongan-potongan video, kolase foto, atau cuma sekadar tulisan-tulisan tentang bapak. Semakin banyak dilihat, ada sesak yang entah apa. Sesaknya menekan, air mata mulai jatuh, satu dua, dan semakin banyak. Bahkan sampai huruf pertama pada tulisan ini dibuat, air matanya masih belum usai.
Pak, saya tahu dalam hidup ini saya sudah banyak sekali merepotkan bapak. Tapi kalau saya boleh minta, bisa tidak kembali bertanya hal-hal apapun seperti dulu. Tolong tanya kabar saya, perasaan saya hari ini, tentang perasaan saya di tempat kerja, tentang cucu bapak, tentang menantu bapak, tentang apapun. Saya rindu percakapan-percakapan kita.
Pak, maaf ya saya belum bisa jadi kebanggaan bapak. Belum bisa ikut semua kemauan bapak. Belum bisa mewujudkan semua harap bapak. Belum bisa jadi pendengar yang baik. Semoga bapak mau maafin ya.
Bapak sehat terus ya, umur panjang, selalu senang, tenang, dan bahagia. Semoga anak-anak dan cucu bapak ini bisa jadi kebanggan bapak selalu. Bisa jadi teman yang bisa mengobati semua sepi dan resah.
Semoga kita, bisa menjadi bapak dan anak yang bisa saling menjaga dan membahagiakan. Aamiin.
Minggu, 27 Agustus 2017
Jika dalam hujan tak kau temukan kenangan, mungkin rindu tak ada di dalamnya. Mungkin tak ada kenang yang benar hinggap di antara basah itu. Dan Bandung, tak semestinya menjadi pendengar dan saksi bisu akan rasamu yang begitu dalam.
Ujung kota yang tadinya sungai mencari pasangan sudah rubuh dengan ingatan seksual yang mengotori anak jalanan, yang embel-embelnya, kini jadi tempat anak muda nongkrong melirik sana-sini sembari membeli jajanan cilok dan gorengan. Hasrat untuk bercinta tak lagi senada. Anak muda keliling hanya untuk mencari pegangan ketika akhir bulan, uang jajan yang berkurang karena lahan uang tak diperuntukkan warga dengan keturunan miskin. Lahan uang untuk yang telah memilikinya, diperbolehkan beranak pinak. Yang miskin tetaplah miskin. Dimana ruang untuk kita bercinta selepas penat kerja?
Pusat perbelanjaan dipenuhi mahasiswa yang lari dari kuliah tambahan, yang dalilnya kesiangan dan dimarahi pasangan, akhirnya memilih untuk nongkrong mencari tebengan akhir bulan. Manusia tak pernah sulit ditebak. Namun mengapa kita tak henti-hentinya membicarakan kode yang tentu dengan mudah dapat dipecahkan? Membosankan.
Bekerja untuk cinta atau mengejar kekayaan sementara, tak jauh-jauh dari waktu yang musnah menempuh perjalanan dengan waktu tempuh paling sedikit tiga puluh menit. Sedang tiga puluh menit lainnya, kau gunakan untuk menelepon kembali dia yang kau tinggal main PES dan tidur dengan berkata “nanti aku telepon lagi ya kalo di kosan.” Dan tak pernah kejadian seperti itu. Penutup yang hanya menenangkan sesaat karena kau ditunggu angkot seberang. Sesaat datang, sesaat hilang. Seperti uang.
Di depanku kini, Bandung punya banyak cerita. Tak hanya cita, cinta, dan pesta. Adakala kita membaginya kepada mereka, yang lebih butuh sentuhan makna dibandingkan harta. Kau tahu, aku sedari dulu mengamati mengapa mereka begitu bangga memamerkan hal yang sungguh biasa saja ketika presiden saja bisa melakukannya, mengapa mereka menertawakan hal yang tak ada sensasinya? Karena mereka kosong. Tak ada yang mampu melihat dengan dekat. Hanya membalikkan fakta bahwa mereka sebenarnya tak benar-benar bangga. Tak benar bahagia. Mengapa tak kita coba menyentuhnya dan berbagi makna tentang hidup di dunia fana ini? Mengapa terlalu sibuk mengurusi derita sendiri yang sebenarnya selalu ada solusi?
Mengapa Bandung tak punya banyak cerita cinta dibandingkan Jogja?
Apa memang seharusnya yang biasa tak dapat dijadikan Istimewa? Atau karena Bandung hanya punya bunga bukan Bakpia?
Akuilah, Bandung selalu butuh ruang lebih untuk sekedar bercinta sepulang kerja.
Selasa, 28 Maret 2017
Nona, aku ingin membawamu mundur, tak jauh, hanya beberapa puluh tahun saja. Jika kau ingat, tepat hari ini, 28 Mei, 21 Tahun yang lalu. Tangis pertamamu pecah membasahi semesta. Mungkin tangis itu menjadi salah satu pertanda, bahwa ada sedikit rasa penyesalan dalam jiwa mu karena telah memilih mengikuti ujian Tuhan - dan memilih menjelma menjadi manusia - . Namun Tuhan tak membiarkan tangis bidadari kecil itu berlangsung lama, tak lama setelah tangis pertama, dua malaikat bernama ayah dan ibu memelukmu dengan penuh haru, menyaksikan satu harapan baru perihal kebahagiaan dunia dan akhrat bagi mereka.
Nona, lalu tumbuhlah kau menjadi perempuan kecil ceria nan mempesona. Senyum penuh kehangatan selalu tercipta pada lengkung bibirmu yang penuh warna. Jatuh, bangun, tangis dan tawa menjadi pena yang menjadi penulis setia semasa belia.
Sampailah kau dimasa remaja. Sebuah titik dimana pencarian jati diri dimulai pada tahap ini. Kau mulai mengerti bagaimana cara mempercantik diri, mengikuti trend masa kini, sampai pada kegiatan yang melibatkan isi hati. Beberapa hati mulai mendekatimu, tapi jiwa mu tak suka dengan itu. Pengekangan adalah sebuah hal yang menyebalkan bagimu, dan dimasa itu, kebebasan adalah hal yang kau jungjung tinggi, termasuk perihal hati.
Angka dalam perhitungan waktu hidupmu di dunia bukan lagi diawali dengan angka satu, namun telah beralih ke angka dua, hal itu juga berarti kau telah selesai melewati masa remaja. Beberapa kesulitan mulai kau rasakan pada tahap ini. Kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginan, atau sahabat yang satu persatu pergi karena sebuah kesibukan menjadi sebuah ujian kecil dari tuhan dalam perjalanan hidupmu.
Dari banyak kesedihan yang kau rasakan, tuhan mengirimkan seseorang kepadamu. Seseorang yang mampu melukis senyum dan sedih dalam satu waktu. Seseorang yang tak tampan namun pandai membuat nyaman. Seseorang yang dalam waktu yang sama mampu menjadi orang yang menyebalkan sekaligus menenangkan. Seseorang yang akhir – akhir ini kau selipkan namanya dalam doa doa, seseorang yang kau harap mampu menjadi pelengkap kebahagiaan di masa – masa selanjutnya.
Nona, telah sampai kau pada usia 21.
Mendewasalah tanpa kehilangan ceria dan warna yang mempesona.
Semoga sisa waktu yang kau punya menjelma bahagia yang nyata, bukan hanya untukmu, tapi juga untuk mereka yang mencintaimu.
Selamat mengulang tahun cantik. Selamat menikmati umur baru. Semoga semua kesemogaan yang di harapkan dapat mewujud kenyataan tahun ini. Aamiin.
Kamis, 19 Januari 2017
Kemarin, seorang perempuan tangguh yang telah dengan susah payah melahirkan dan membesarkan ayah saya telah berpulang ke pangkuanNya. Belum lama juga saya kehilangan teman terbaik semasa SMA, paman terbaik dan orang – orang baik lainnya yang belum sempat saya berikan sesuatu untuk mereka. Dan dari semua itu saya belajar satu hal.
“Bagian terbaik dalam hidup adalah ketika waktu yang ada digunakan sebaik – baiknya untuk orang yang kau cinta. Karena entah berapa lama waktu mu bersama mereka. Bisa di hari ini mereka menunggu mu dirumah sementara kau berkelana di luar sana, tapi tidak menutup kemungkinan esok hari orang yang menunggu mu dirumah itu sudah tak ada”.
Bersama pengingat ini, saya harap...saya tak lagi menjadi manusia yang egois. Menjadi manusia yang mampu menghabiskan waktu dengan orang – orang tercinta selama mereka ada. Mampu memberikan sesuatu yang membuat bangga. Mampu mencipta senyum dan bahagia dalam hati mereka. Aamiin...
Tangerang, 19 Januari 2017
Sabtu, 19 November 2016
Senin, 27 Juni 2016
Saat membaca surat ini, mungkin banyak mimpi yang sedang atau sudah kau perjuangkan. Ada beberapa yang mampu kau raih, sisanya yang lain masih begitu abu dan sangsi untuk dapat tercapai. Tapi tak apa, berikan saja usaha terbaik dalam mengupayakannya. Berserah bukan berarti menyerah, tetapi pasrah selepas usaha berlelah-lelah. Maka, aku berpesan, bila dalam perjalananmu nanti kau merasa letih, ingat-ingatlah lagi bahwa itu adalah proses yang kau jalani. Engkau tak pernah tahu apa yang Tuhan persiapkan untukmu, yang bisa kau lakukan hanyalah menjalani apa-apa yang kau yakini. Selesaikanlah apa yang telah kau mulai. Sekalipun kau gagal, itu akan membuatmu paham, mana yang pantas kau perjuangkan dan mana yang semestinya kau lepaskan. Bersabarlah, sebab kesabaran adalah sebaik-baik teman perjalanan. Kuatkan lagi pijakan kakimu dalam melangkah. Perjalanan hidup merupa lorong-lorong hitam paling pekat. Kau akan menemukan cahaya hanya jika mampu berbesar sabar melewatinya. Maka, tenang saja, akan selalu ada kebahagiaan yang menanti di ujung perjalanan.
Saat membaca surat ini, mungkin banyak sahabat terbaik yang mengelilingi hidupmu. Menjadi teman bagi hari-hari panjangmu. Kawan berbincang yang tak menyela pembicaraan, pendengar yang baik bagi ide-ide dan keresahan yang ada di dalam kepalamu. Ruang berbagi tawa dan kesedihan pada setiap waktu yang kau luangkan. Tapi, sebanyak apapun teman, engkau tetaplah berdiri di atas kakimu sendiri. Maka, aku berpesan, bila suatu kali sahabat-sahabatmu satu per satu pergi untuk mewujudkan cita-cita mereka masing-masing, jangan merengek seperti anak kecil yang kehilangan kembang gula. Dukung mereka semampu yang kau bisa. Berikan kenangan terbaik kepada mereka. Sehingga, bila kelak kau semakin jauh, engkau dirindukan sebagai kenangan yang selalu ingin mereka rengkuh. Jadilah sahabat terbaik bagi mereka. Sebab, mereka telah memberikan yang terbaik sebagai sahabatmu.
Saat membaca surat ini, mungkin ada seseorang yang begitu kau cintai. Segenggam hati yang dengan tulus memberikan segalanya untukmu. Ia yang menyuburkan bunga-bunga dan memberi warna-warna bagi tandusnya hatimu yang kesepian. Dekap yang pertama kali memeluk saat kau terjatuh. Kecup yang mencium aduh di bibirmu. Tangan yang menggenggam untuk menemanimu menempuh perjalanan. Maka, aku berpesan, jaga ia dengan sebaik-sebaiknya. Perjuangkan sebagaimana kau ingin diperjuangkan. Pertahankan ia dengan setabah-tabahnya kesabaran. Sebab, ia adalah yang paling mengenalmu selain dirimu sendiri. Jangan biarkan ia menghilang hanya karena lebih memutuskan untuk pergi. Cintai ia dengan segenap kasihmu. Sayangi ia selembut hatimu. Lindungi ia setegas jiwamu. Sebab, kau adalah istimewa karena telah memilikinya.
Saat membaca surat ini, mungkin kau sedang merasa teramat kesepian karena semua yang kau miliki satu per satu menghilang. Tapi, kau tak perlu bersedih dengan seperih pedih rasa. Engkau tak pernah benar-benar kesepian, sebab aku selalu ada. Tak pernah jauh dari hidupmu. Begitu erat, begitu dekat. Maka, pejamkan sejenak matamu. Kunjungi aku di kedalaman hatimu. Aku adalah dirimu sendiri; keyakinan yang kau punya saat tak ada lagi yang bisa kau percaya.
Bila suatu kali kau tak lagi tahu apa yang harus kau lakukan, buka lagi lembaran surat ini. Semoga menjadi semacam pengingat bahwa kau pernah begitu yakin atas hidupmu sendiri. Aku mencintaimu.
Tommy Dirgantara T
Sebuah surat dariku, untuk diriku sendiri.
Selasa, 21 Juni 2016
"Iya. Tapi seandainya?"
"Jangan terlalu banyak berandai, wang. Tak baik untuk kewarasanmu."
"Aku serius, Tom."
"Aku pun."
"Jika hal itu benar terjadi, apa yang akan kau lakukan?"
"Entahlah. Berhentilah berjika-jika. Aku mencintaimu. Sesederhana itu."
"Aku takut kita berpisah, Tom."
"Kau menciptakan rasa takutmu sendiri."
"Aku tak ingin kita saling membenci pada akhirnya."
"Begini, wang. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di hari esok, lusa, dan seterusnya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga apa yang kita miliki sekarang. Hingga apapun yang kita lakukan adalah bentuk upaya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Baik-baiklah dengan perasaanmu. Semoga kita tidak sedang berjudi saat mencoba peruntungan tentang permasalahan hati."
"Aku selalu memikirkan pertanyaan ini, setiap kali aku merasa bahagia saat bersamamu."
"Ya sudah, berhentilah memikirkan hal yang membuatmu takut. Fokus saja pada hal yang membahagiakanmu."
"Aku takut tak siap menghadapi kehilangan."
"Wang.. Kau bicara apa, sih? Bahkan saat ini kau sedang bersamaku. Menikmati waktu berdua. Bersama-sama."
"Sebab itulah aku takut. Aku bahagia bila terus bersamamu. Aku tak ingin kehilanganmu."
"Aku tak bisa menjanjikan akan selalu ada. Tapi ini yang bisa aku sampaikan, aku mencintaimu dengan sungguh. Maka aku akan selalu berupaya untuk menjaga cinta yang ada di antara kita. Mengemasnya dengan baik setiap hari, agar aku bisa mencintaimu lagi dan lagi. Sebab aku tak selalu bisa membuatmu bahagia, perkenankan aku untuk selalu menemanimu bagaimanapun keadaannya."
"Tommy."
"Ya?"
"Jangan pergi, ya."
"Hei.. Wang.. Look at me.. Aku tak pergi ke mana-mana. Aku di sini. Di sampingmu. Menjaga kamu."
"Tapi, Tom."
"Berhentilah bertapi-tapi. Jalani semuanya dengan sederhana. Enyahkan keraguanmu. Nikmati apa yang kita jalani kini. Tak perlu mempermasalahkan apa yang akan terjadi nanti. Ketakutanmu justru akan menghancurkan dirimu sendiri. Mulailah untuk mencintaiku tanpa berjika-jika. Dan aku akan selalu mencintaimu tanpa tapi. Sebab yang kita lakukan adalah di waktu sekarang. Bukan nanti."
"Entahlah, Tom. Hanya saja..."
"Shut up."
Aku meletakkan kecupan di keningnya. Membiarkan ia memejam merasakan sentuhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Sungguh, membuatnya diam jauh lebih baik dibandingkan harus berdebat dengan perasaan. Terlebih pada sesuatu yang tak perlu ditakutkan.
![]() |
sumber: tumblr |
Rabu, 25 Mei 2016
Jih, apa kamu pernah mendapati sesuatu yang kau impikan ? Seperti sesuatu yang begitu kamu idam-idamkan; rasa, suasana, aroma, kerinduan, keadaan, seseorang, atau segala kebaikan dan kebahagiaan lain yang dulunya hanya sebatas kau angankan. Lalu, suatu kali Tuhan dengan berbaik hati memberikan seluruhnya sebagai doa yang terjawab. Aku pernah merasakannya, dan itu adalah momen ketika kau hadir dalam hidupku.
Mungkin, Tuhan sedang memanjakanku, saat Ia dengan penuh cinta membuat kita bertemu. Hingga akhirnya kita dapat saling mengenal satu sama lain, lalu memutuskan untuk saling memiliki. Aku tak lagi menjadi aku, kamu tak lagi menjadi kamu, aku dan kamu telah menjelma menjadi kita. Tak peduli pada seberapa jauh jarak memberi sekat, menafikan rindu yang kerap membuat kita sekarat. Tentang hal itu, kamu pernah bilang, “Distance means so little, when someone means so much.” Sebab, bagian terbaik dari jarak adalah kita. Dua pasang lengan yang menengadah untuk berdoa. Berharap kepada Tuhan agar selalu menjaga kita dengan cinta.
Jih, setahun lebih, selepas raga ini mengenalmu, aku jadi lupa diri. Semua tentangmu aku abadikan di sini. Terpatri baik-baik di dalam hati. Mengenalmu adalah skenario terbaik. Memilikimu utuh tanpa cela adalah anugerah teristimewa. Dicintai olehmu adalah kebahagiaan yang sempurna. Terima kasih telah hadir, memberi warna-warni dalam setiap cerita. Pencipta makna dari segenap rasa yang kita sebut sebagai cinta.
Jih, aku ingin membawamu ke sebuah tempat yang nyaman dan sederhana. Dimana setiap lekuk sudutnya berpendar cahaya Tuhan. Maka, tetaplah bergenggaman, dan jangan pernah merenggang. Aku tak bisa menjanjikan dapat terus membuatmu tertawa dan bahagia. Tapi, yang dapat kupastikan, apapun yang terjadi nanti, kita akan bisa melalui dan jatuh cinta kembali.
Untuk perempuan yang datang saat aku sedang merasa teramat kesepian, Jihan Marselina Buana.
Home is wherever I'm with you.
Aku mencintaimu.
Tommy Dirgantara T
Nyari Apa Kaka
Best Picture
Paling Banyak di Baca
-
"Hormat karena segan itu lebih baik dibanding hormat karena takut. Karena orang takut itu cuma hormat di depanmu, dia siap menusukm...
-
“Gimana Tom, gue harus lanjut gak sama dia ?” “Ya terserah” “Ko terserah doang sih ? kasih masukan atuh !!!” “Ya lu maunya gimana ?” “Gua ...
-
Izinkan aku untuk menutup mata sejenak. Melupakan segala hal yang membuat sakit, mencipta sungai di ujung kelopak mata, melukis guratan ge...
-
Ini adalah tulisan kesekian yang aku buat, dan akan menjadi tulisan terakhirku untuk mu, entah berapa banyak tulisan ku yang telah kau bac...
-
Aku harap kau bisa membaca tulisan ini. Aku harap kau bisa mengerti tulisan ini. Dan aku harap kau tahu bagaimana keadaan ku saat ini....